Wednesday, June 13, 2012

Cerita bersambung KOKO 5. The end

Selalu, sebelum Koko pulang, ia akan berdoa tepat di tempat ia menemukan roti isi selai stroberi. Ia berdoa agar ia bertemu ibunya kembali.

" Bapa, Koko lapar. Dimanakah ibu? "

Koko menyatakan perasaannya secara tulus kepada Bapa, yang tidak pernah ia lihat. Namun sang ibunda selalu mengatakan bahwa Bapa di atas sana adalah Bapa Koko yang paling setia. Ia akan selalu menjawab pertanyaan dirinya, apapun itu.

Kapanpun. Pasti akan dijawabNya.

---

Persimpangan jalan yang cukup ramai menjadi tempat pengharapan terakhir bagi Koko. Namun seharian telah ia habiskan dengan pengharapan, dan harapan tersebut seperti tak kunjung tiba.

Ia duduk, memandang setiap orang yang melewatinya tanpa menggubris, bahkan menengokpun tidak. Hanyalah sebuah pohon natal, tepat berseberangan dengan tempat Koko berisitirahat yang menemaninya. Malaikat tersebut tersenyum hanya untuk Koko.

Diingatnya kembali, pohon dedalu yang ia hampiri siang hari tadi. Lima tempat telah Koko hampiri beberapa hari belakangan. Pohon dedalu yang besar dan baik hati terus mengayunkan ranting-rantingnya yang sedang meranggas..

"......Namun semuanya sepi. Oh pohon dedalu favoritku. Apakah kau tahu rasanya melihat dan memandangi tempat yang begitu sepi di musim dingin, di hari terdingin? Rasanya sangat tidak nyaman. Aku merasa dingin. Dan aku yakin, rasa itu bukan karena dinginnya udara. "

Koko dianggap tidak ada. Beberapa kali pejalan kaki melewati Koko tanpa rasa.

Kedinginan. Angin musim dingin menusuk tubuh Koko perlahan. Semakin lama, pohon natal yang tak pernah lepas dari pandangan Koko pun redup.

Adalah seorang anak laki-laki yang terlihat tidak asing di mata Koko. Sekiranya, Koko mengenal wajah anak tersebut. Namun siapakah anak tersebut? Apalah ekspresi wajah anak tersebut?

Sumringah.
Bahagia.
Ada satu perasaan yang sudah tidak dapat dirasakan lagi oleh Koko.

Pengharapan pada wajah anak tersebut tidak lagi ada pada Koko. Pada Koko yang sekarang.

" Pohon dedalu. Maafkan Koko. Koko tidak dapat seperti ana tersebut. Koko lapar.

Hai batu-batu keras kepala. Perosotan dan tempat duduk di taman. Selokan yang mulai mengeras...

Kepada lampu neon dirumah termanisku, kotak kotak koleksiku, rumput-rumput yang diselimuti es embun, pohon pinus dan pohon ceri...terimakasih kalian ada buat Koko.

Dan juga padang rumput liar, Koko akan belajar seperti ibu untuk berputar menikmati dunia, melihat luasnya dunia.

Untuk roti isi selai stroberi, kau aman di sisi sang Bunda, kau tidak akan terbuang di sisiNya.

Hai, malaikat kecil pohon natal, maukah kau nyanyikan sebuah lagu untuk Koko?

Koko lelah. Lapar. Koko mau istirahat. Mau tidur seperti rumput liar coklat yang sedang tertidur lelap...

Bapaku, terimakasih untuk sahabat-sahabat setia Koko. "

Satu tetes air mata membeku di pipi Koko. Ia pun tertidur. Lelap.

---

Adalah seorang anak laki laki berumur sembilan tahun memegang sebuah roti selai stroberi yang masih cukup hangat. Wajahnya sumringah memandangi roti ini,sambil sesekali memperhatikan jalan setapak.

Penuh pengharapan.

Koko terbangun dari tidurnya. Sang ibu membelai rambutnya dengan halus dan memeluknya erat. Ia pernah merasakan pelukan ini dahulu. Koko tidak terkejut sama sekali. Ia bahagia. Ia tahu sedari awal, ia akan bertemu dengan ibunya.

Koko telah memutuskan untuk menunggu sang ibu di persimpangan jalan, ditengah2 di mana persimpangan tempat favorit kelima dari sang ibu.

Persimpangan ini adalah tempat di mana sang ibu merasakan tetesan salju pertama di bola matanya, sembilan tahun lalu. Dan terlihatlah seorang anak bayi laki-laki. Tepat di pinggiran jalan, terbungkus kain lampin. Diterangi lampu hias sebuah pohon natal sebuah toko.

Di sini,

Koko merasakan kembali kehangatan tersebut. Tepat seperti sembilan tahun lalu.

" Koko, terimakasih untuk hadiah roti isi selai stroberi mu. Bunda Maria memberikannya kepada ibu. Ayo. Ibu ada buatmu nak. "

Setetes air mata membasahi pipi Koko. Namun kali ini, Koko merasakan kasih yang tak terperikan. Pengharapannya pada Bapa, yang selalu dipeluk oleh Sang Bunda Ilahi, tak pernah mengecewakan.

Dan Koko pun akhirnya mengenal anak laki-laki yang memegang erat roti isi selai stroberi, yang dipenuhi dengan pengharapan tersebut.

---

SELESAI.

No comments:

Post a Comment