Wednesday, June 13, 2012

cerita bersambung KOKO

Adalah seorang anak laki-laki berumur Sembilan tahun menggengam sebuah roti isi selai stroberi yang masih cukup hangat. Wajahnya sumringah memandangi roti ini, sambil sesekali memperhatikan jalan setapak. Roti selai ini telah somplak sedikit pada bagian ujungnya.

“Tak mengapa kan, hai daun-daun kering?” Tanya Koko yang seringkali menyantap makanan sisa yang terlihat lebih tidak pantas kepada daun-daun kering di sekelilingnya.

Koko berjalan menyusuri jalan setapak di bawah pohon dedalu raksasa, sambil memeluk roti selai ini. Pohon dedalu yang menjadi tempat favorit Koko sewaktu musim panas dan semi. Pada musim semi, biji-biji pohon ini akan menghiasi jalanan dan area tempat Koko duduk sehingga jalanan rata akan terlihat lebih bertektstur. Sedankan pada musim panas, lebatnya dedaunan akan menunjukkan hembusan angina-angin yang sulit terasa pada permukaan kulit Koko. Namun, Koko selalu merasa sejuk dengan goyangnya daun-daun yang begitu elegan.

Senyum Koko tiba-tiba mengembang.

“Daripada aku memakan roti ini, lebih baik aku memberikannya kepada ibu di rumah. Ibu pasti senang, walaupun memang roti ini bekas orang lain.” Koko tersenyum sepanjang jalan membayangkan senyum ibunya yang pasti merekah. Ia menganggap ranting pohonpun setuju dengan menganggukkan ujung-ujung ranting mereka.

Angin bertiup melawan arah berjalannya Koko. Butir-butir salju mulai turun membasahi wajah dan kepala Koko yang tidak berbalutkan topi hangat. “Tidak apa-apa. Perosotan dan tempat duduk di taman ini saja tidak pernah protes kedinginan.” Hiburnya sendiri.

Roti isi selai stoberi terus didekapnya dengan erat, berharap bahwa roti akan tetap hangat sesampainya di rumah.

“Tuhan, terimakasih atas roti ini sehingga aku dapat memberikan sebuah berkat anugrah kepada ibu. Berkatilah orang yang telah membuang roti ini.” Ucap Koko dengan polosnya.

Sementara Koko terus berjalan menyusuri jalan setapak, tepat di seberang jalan sedang berjalan seorang wanita paruh baya dengan tertatih. Rambut yang masih hitam kelam tidak tertata sama sekali mencerminkan bahwa wanita ini jarang sekali mengurus penampilannya. Secara sederhana sekali, ia mengalungkan syal rajutannya sendiri di sekeliling lehernya. Syal coklat kumal tanpa motif, yang telah sobek pada bagian tengahnya seakan-akan mencerminkan perasaan dari wanita yang tertatih ini.

“Hari ini adalah hari ulang tahun anak tercintaku. Namun aku tidak dapat memberikan apapun. Aku wanita tua ceroboh yang begitu menyedihkan. Delapan puluh sen adalah uang terakhirku dan aku menyia-nyiakannya.” Keluhnya.

Wanita syal coklat ini secara tidak sengaja terpeleset di sebuah kubangan salju cair dan menjatuhkan roti isi selai stroberi yang baru saja ia beli sebagai hadiah untuk anaknya. Roti isi ini dengan mudahnya jatuh dan menggelinding.

“Ya Tuhan!! Apa yang telah aku perbuat!! Roti ini sudah tidak pantas lagi sebagai sebuah hadiah ulang tahun…..” dengan sedihnya, wanita syal coklat ini berjalan namun ia tak ingin pulang. Ia sedih dan malu. “ Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku berikan?”

Ia berjalan berharap sebuah mujijat terjadi.

Koko terus berjalan menikmati angin dingin yang menusuk. Namun kehangatan roti yang telah sirna, seakan-akan terus menyihirnya menjadi lebih hangat. Selokan kecil yang berada di samping jalan setapakpun semakin deras dengan air salju yang mencair.

“Ia akan terus membaringkan aku di padang rumput hijau. Ia akan membimbingku ke air yang tenang dan aku akan segar! Aku yakin itu, hai para batu kali yang keras kepala. Apakah kalian percaya itu?” Koko memastikan hal ini.

“Huh! Aku tidak peduli jika kalian tidak percaya. Lihat saja nanti! Bahkan kalian batu-batu keras kepala di letakkan olehNya di tempat yang begitu indah. Andai kalian memiliki mata.” Bantah Koko dengan senyum bangga.

Air mata mulai membasahi pipi wanita syal coklat di seberang jalan yang mulai menanjak. Butir butir salju memudar dalam pandangannya. Namun ada suatu benda kecil yang mengkilap dekat trotoar, beberapa meter di depan kakinya. Benda ini menarik perhatiannya dan ia berharap bahwa benda ini adalah benda yang ada di dalam pikirannya.

“Lima puluh sen!!!! Wah! Beruntungnya diriku!” seru wanita ini kegirangan. Namun sorakan kegembiraan ii termakan oleh deru mesih truk yang terdengar sangat kencang.

Wanita syal coklat ini mendongak.

“Ibu! Aku pulang. Aku mempunyai hadiah untuk ibu. Sebuah kejutan berkat khusus untuk hari ini.”

Koko berseru sambil menggeser papan kawat sebagai pintu dari gubuk mereka dekat pembuangan sampah. Namun tidak ada jawaban.

Koko tersenyum kembali memikirkan cara untuk menata roti isi selai stroberi ini sebagai sebuah kejutan yang pertama dilihat oleh sang ibu, pertama kali masuk ke dalam rumah.

Koko duduk tepat di samping roti isi selai stroberi, yang ditata di atas sebuah sobekan kardus laptop seseorang. Koko menunggu dengan sabar, dengan senyuman di wajahnya. “Daun-daun kering, batu-batu kali keras kepala tolong sampaikan kepada ibuku di manapun ia berada untuk pulang. Aku menantinya dengan perasaan gembira yang sebentar lagi tidak dapat kubendung.” Pinta Koko dengan senyum yang sangat lebar.

Ia begitu ingin hari ini menjadi hari yang sangat berharga. Di hari ulang tahunnya, Koko ingin memberikan sebuah ucapan terimakasih kepada ibu tercinta.

Suara deruman mesin truk tak terkalahkan oleh teriakan seorang wanita paruh baya yang terkejut ketakutan. Sang pengemudi kehilangan kendali karena licinnya jalanan yang sedang dihujani salju. Wanita paruh baya yang masih menggengam uang logam lima puluh sen hanya dapat membayangkan wajah anaknya, Koko yang berulang tahun. Ia sedih karena ia tahu waktunya telah datang.

“Bapa terimakasih karena Engkau memberikan harta hidup yang paling berharga, Koko. Biarkan ia bertumbuh besar menjadi malaikatMu, yang siap dipakai untuk mengangkat banyak jiwa menuju surgaMu. Naungi ia dengan kasih kehangatanMu disaat ia merasa sendirian. Terimakasih Bapa.”

Dengan kata terakhir ini, wanita paruh baya inipun lega. Uang logam lima puluh sen tetap digenggamnya dengan kuat berharap dapat dikirimkannya uang ini kepada anak tercintanya, Koko.

Malampun hadir dengan cepat karena musim dingin yang masih melanda kota Kilmore, bagian selatan Victoria, Australia. Namun, angin manapun tidak terasa seakan-akan memberi tanda sesuatu yang tidak beres telah terjadi. Koko duduk diam termenung memikirkan sang ibu. Tempat pembuangan sampah, sudut tempat tinggal Koko bersama ibunya memang selalu sepi bila telah melewati waktu senja. Namun, di tepi jalanan raya, lima gang jauhnya, tim pemadam kebakaran, polisi dan tim medis sedang sibuk berupaya mengamankan jalanan.

Seorang wanita paruh baya telah meninggal dunia tertabrak truk yang berada dalam posisi terbalik.

“Tuhanku. Roti ini telah mengeras. Dingin. Namun ibuku belum juga sampai. Maafkan aku yang tidak dapat mempersembahkan apapun kepadanya. Aku sedih. Seandainya saja aku terus memeluk roti ini agar hangat………….” Koko lama termenung.

“Hai bohlam lampu. Apakah kau melihat ibu? Tidak biasanya ia pulang selarut ini. Udarapun sangat dingin. Bisakah engkau melihat melalui gelapnya malam untuk mencarinya?”

-bersambung-

No comments:

Post a Comment