Andai.
Sebuah kata yang secara ironis menyedihkan namun dapat juga menjadi bensin bagi beberapa manusia untuk tetap hidup. Pedang bermata dua.
Terlalu berandai, atau selalu berandai atau berhenti berandai. Mengerikan.
Kehidupan saat ini seperti itu.
Dahulu kala,
Manusia diciptakan untuk merasa, untuk melihat, mendengar, berbicara...
Untuk hidup.
Namun banyak ditemukan, manusia yang tidak mengerti saat ini.
Mereka bergerak namun tidak melihat.
Mereka melihat namun tidak merasa.
Mereka merasa namun tidak berani menyatakan.
Apalah arti hidup jika seperti itu?
Pertanyaan semu yang sulit untuk dijawab.
Apakah jika dia bergerak berarti dia hidup? Apakah jika ia melihat berarti dia hidup? Apakah jika ia merasa berarti dia hidup?
Ahhh,
Andai. Apakah? Andai apakah?
Bila nanti suatu hari, manusia mendapatkan jawabannya, cinta akan terlahir kembali layaknya burung phoenix yang harus terbakar dahulu baru ia dapat hidup kembali? Apakah saat ini seperti itu? Bahwa agar sebuah pembaharuan terjadi harus adanya renovasi perombakan habis habisan?
Agar masalah boleh berakhir,
Agar cinta luber tumpah tak terkira,
Agar mimpi dan andai bersatu bersama harapan,
Agar setiap insan percaya bahwa dibalik awan hitam ada pelangi yang tersembunyi?
Andai.
No comments:
Post a Comment