”Bapa kami yang di surga..........”
Derak mesin berat memecahkan dinding beton yang luluh lantah. Gema suara sirene mobil mobil ambulans kencang berderak melalui celah-celah jalanan yang telah retak kalah oleh kuasa alam, yang memang tidak ada tandingannya. Alam adalah ciptaan sang Ilahi, siapa yang dapat menandingi Ilahi. Jawabannya tidak ada. Berarti, alampun tidak ada tandingannya. Bahkan manusiapun, yang merupakan ciptaan Sang Ilahi yang dikatakan paling sempurna, tetap tidak bisa menandingi alam. Ironis.
-------------------------
Langit hitam, bergemuruh seakan-akan berusaha untuk membungkus daratan bumi yang begitu kelam. Gegap gempita namun bukan damai yang didapat melainkan suara klakson mobil, entah itu mobil pribadi ataupun mobil angkutan umum. Tidak lupa digabungkan dengan klakson motor, yang lebih kecil ukurannya namun dalam jumlah yang lebih banyak. Bising. Pusing.
”BRENGSEK LU!!”
”ANJING LU!! DISURUH CEPETAN MALAH NYOLOT!”
”WOI!!!! BUTA YA LU???!!!”
Gemuruh dan gelegar petir ikut memenuhi cuping telinga semua manusia yang kemudian membuat gendang telinga bergetar. Ah. Suasana ini seakan-akan sebagai awal dari akhir jaman yang dikatakan manusia semakin hari semakin jelas. Entah itu hanya prediksi manusia yang berusaha mengkaitkan segalanya dengan unsur rohani. Entah itu hanya prediksi manusia yang dipenuhi dengan perasaan paranoid. Atau justru prediksi manusia yang sudah menanti-nanti datangnya akhir jaman entah alasan pribadi mereka seperti apa.
”......Dimuliakanlah namaMu...Datanglah KerajaanMu....”
Tetes-tetes hujan mulai membasahi jalanan yang dipenuhi oleh debu dari pembangunan jalanan baru dan jembatan jembatan raksasa yang menghalangi masuknya cahaya matahari ke atas permukaan bumi dan memaksa pandangan mata manusia untuk mencari celah bisa melihat langit, yang memang sudah jarang terlihat biru.
Hujan semakin deras. Semakin keras pula suara teriakan orang yang semakin emosi. Seperti drum penabuh dari adat atau suku tribal pedalaman yang semakin lama semakin kencang namun meneriakkan dua kata yang saling melengkapi...
”NAIK”
”DARAH”
”NAIK”
”DARAH”
”NAIK”
Aaahhhh!!!!
Kegelapan tiba-tiba ikut melengkapi kesuraman langit yang basah dan bergemuruh. Mati lampu. Pandangan meluas dan berusaha beradaptasi dengan kegelapan yang cukup mengikat. Kornea mata membesar berusaha mencari titik cahaya. Ada sedikit cahaya yang ternyata adalah tampilan menunjukkan bahwa telepon genggam harus mati. Sinyal hilang dan hubungan komunikasi terputus. Salah satu jaringan tidak dapat digunakan.
Namun tiba-tiba kelopak mata mengejap dan berusaha melindungi pandangan dari cahaya lampu mobil...Lampu sorot mobil menyorot kencang!
Pertunjukan mulai!
Gemuruh petir mulai sebagai serangan pertama dari orkestra.
Diiringi tetes-tetes hujan yang menjadi penyatu dan penjaga tempo.
Klakson mobil dan motor sebagai instrumen musik bas.
Dan akhirnya makian dan teriakan tanda tak sabar dari manusia manusia lah yang menunjukkan kualitas tenaga sebagai seorang penyanyi opera.
Ekskuisit.
Mantap.
Begitu menyentuh.
Air mata jatuh. Terharu.
Pertunjukkan selesai dan akhirnya komentar dari penontonpun diberikan.
”Ah!! SIALAN!!! Mati lampu lagi!! BRENGSEK!! Pemerintah apaan ni! Kapan benernya gardu listrik??!!”
Pemain instrumen dan penyanyi pun ikut senang dan berkomentar...
”WOY!!!! Cepetan dong!! Resek banget sih!!! .....Bilang apa lu? Kurang ajar!! Lu yang anjing!!!”
Penonton berusaha keluar gedung pertunjukkan dan terjadilah kemacetan.
Polisi yang seharusnya diperlukan disaat seperti ini tidak hadir. Karena hujan. Takut sakit atau apalah alasannya. Bukan hak untuk menghakimi.
Toh siapa yang ingin hujan-hujanan di bawah gemurh langit dan di tengah-tengah gemuruh emosi manusia? Bukan begitu??
-----------------------------------
Gelak tawa seketika berubah menjadi lolongan kesedihan dan duka yang mendalam. Di satu sisi jalanan, anak-anak berlarian tertawa karena belum mengerti apa yang telah menimpa mereka namun ada beberapa anak yang berlarian menangis karena mencari orang tua yang telah beberapa hari belum terlihat batang hidungnya?
Namun, keironisan ini tidak menutup kemungkinan bahwa di satu sisi jalanan lainnya, masih ada pemandangan yang menunjukkan papan sebesar pintu rumah bahwa satu liter bahan bakar bensin berharga tiga puluh ribu rupiah. Dengan harga asli yang sepersepuluhnya. Inilah moral asli manusia serakah, dengan budaya ’YANG PENTING GUE ENAK, UNTUNG DAN KAYA ......tai!!!!’
Setiap sisi menampilkan kehidupan yang semakin hari semakin gila. Gemeratak gigi telah menjadi pelengkap pendengaran setiap hari. Kehilangan materi, uang ataupun koleksi kesayangan mungkin dapat dimaklumkan. Dan kehilangan seseorang atau sesuatu adalah pengalaman dan bagian hidup yang menyakitkan. Tetapi kehilangan segalanya berbeda.
Kehilangan kekasih jiwa atau kehilangan bahu orang tua tempat menempatkan kepala sekedar hiburan sesaat adalah hal berbeda. Kehilangan rasanya mulut seorang bayi yang menghisap, masih perlu minum air susu ibu adalah berbeda. Ingin menyalahkan tetapi siapakah yang disalahkan?
Banyak yang mengatakan ini azab dari Tuhan.
Apalah artinya azab? Apakah artinya azab? Definisi azab? Pengertian azab? Asal azab? Mengapa Tuhan menjadi satu-satunya tempat dan pribadi yang disalahkan bila manusia sudah tidak berdaya?
Bumi indah, lautan biru bukanlah Tuhan.
Mengapakah?
Mungkin karena sewaktu pandangan mata masih biru menatap langit dan lautan..tidak pernah terucapkan Tuhan Maha Besar sehingga pudar oleh air mata yang menampilkan kedukaan di bumi indah, lautan biru.
Apakah itu berarti tanah retak, dataran longsor ialah Tuhan?
Jika ya, berarti kedukaan ialah Tuhan.
Hingga manusia sadar,
MEREKA SALAH BESAR!!!
Bukan hak dan tempat manusia untuk berandai-andai,
Atau bahkan mengatakan
Bahwa
Tuhanlah yang memberikan bencana!!
----------------------------------
Toh
Apakah manusia adalah mahkluk yang pantas, bahkan layak untuk berbicara tentang ke-ilahi-an Allah Maha Besar bilamana,
Manusia masih memanggil sesamanya anjing,
mengutamakan kepentingannya sendiri,
mengambil keuntungan yang bukan haknya,
mencuri kesempatan dalam kesempitan manusia lainnya atau
bahkan mengeluh karena mati lampu???
Sedangkan masih banyak manusia lainnya hidup beratapkan langit suram yang selalu menangis, meneteskan air hujan dan gemuruh petir?
Bahwa masih banyak manusia yang telah keram dan kebas akan luka fisik karena luka hati telah menyakiti mereka terlebih dahulu kehilangan keluarga, kekasih ataupun anak?
Manusia memang sudah saatnya menangis.
Menangisi diri mereka sendiri.
--------------------------------------------
”............Jadilah kehendakMU. Di atas bumi seperti di dalam surga............”
Siapa yang dapat menandingi Ilahi.
Jawabannya tidak ada.
No comments:
Post a Comment